Rabu, 08 Januari 2014

PEKERJAAN ILEGAL : PEDAGANG KAKI LIMA, JURU PARKIR, PENGEMIS, DAN PENGAMEN

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Rabu, Januari 08, 2014
Menurut lo gimana? 
1 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini




OLEH:
BRILYAN BAYANI TISNA                     (125060606111003)
IRENE DHITA PRATIWI                        (125060600111014)
MUHAMMAD ILHAM RAMADHAN  (125060607111020)
NORMA ELITA                                        (125060600111013)
PRADIPTA FAHRIZAL                            (125060600111031)
TIAS SUKMA ABITA                               (125060601111010)
YASNA HERNANDO M.                         (125060600111035)


JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
KELAS B



Latar Belakang
           Banyaknya pengangguran di Kota Malang menyebabkan penduduk yang menetap atau sekedar mencari penghidupan di kota ini mulai melakukan segala cara untuk mencari nafkah. Kebanyakan orang-orang ini adalah imigraan dari desa yang mencoba peruntungannya di kota besar. Jalan yang ditempuh para imigran ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya banyak yang melakukan pekerjaan ilegal. Seperti yang banyak ditemui di Kota Malang, di setiap sudut akan banyak ditemui jenis pekerjaan ilegal ini antara lain : pedagang kaki lima, juru parkir, pengemis dan pengamen. Hal ini merupakan akibat dari banyaknya pendatang barau yang hidup di Kota Malang, sehingga pekerjaan ilegal pun dilakukan demi menyambung hidup. Berikut akan dijelaskan masing-masing pekerjaan ilegal yang terdapat di Kota Malang.

Pedagang kaki lima
Pesatnya pertumbuhan di berbagai daerah menyebabkan banyaknya penduduk yang bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan, salah satunya ke Kota Malang. Mereka berpikir bahwa di kota terdapat banyak kesempatan untuk bekerja. Tapi, kebanyakan dari mereka datang tanpa meiliki keterampilan.
Masyarakat berpikir bila hidup di kota Malang akan meningatkan kesejahteraan hidup karena banyaknya tersedia lapangan pekerjaan dan dekat dengan berbagai fasilitas umum serta pusat kegiatan pemerintah. Namun, pada kenyataannya daya saing di kota sangat tinggi, sehingga setiap lapangan pekerjaan membutuhkan tenaga kerja yang memiliki skill atau kemampuan yang memadai. Masyarakat imigran yang datang kebanyakan datang tanpa memiliki skill atau keahlian untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Ketersediaan lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah penduduk, sehingga imigran yang tidak memiliki keahlian tidak mendapat pekerjaan dan akhirnya mendirikan lapak-lapak illegal di dekat dengan pusat kegiatan. Hal ini tentunya menggangu masyarakat lainnya, karena kebanyakan lapak yang mereka buka mengambil pedestrian dan tepi jalan, tentunya hal tersebut mengganggu pejalan kaki. Lapak-lapak tersebut juga belum tentu mendapatkan ijin dari pemerintah. Selain menggangu pejalan kaki, pedagang-pedagang tersebut juga mengganggu kendaraan yang lewat sehingga dapat menimbulkan kemacetan. Akan tetapi, selain sisi negatif dari pedagang kaki lima tersebut,ada sisi positif yang dapat kita ambil yaitu dengan adanya pedagang kaki lima menjadi salah satu potensi untuk menunjang perekonomian warga Kota Malang yang menjadi pedagang kaki lima asal dapat dikelola dan dikembangkan dengan benar.


Juru Parkir
Lahan parkir di Kota Besar seperti Kota Malang ini memang sangatlah terbatas,namun bukan berarti lahan-lahan yang seharusnya tidak digunakan sebagai lahan parkir dialihfungsikan menjadi lahan parkir oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab.Sudah merupakan rahasia umum bahwa jumlah parkir ilegal di Kota Malang ini sudah sangat banyak.Kondisi tersebut bukan hanya merugikan masyarakat dalam hal finansial karena biaya yang mahal,namun juga merugikan dari segi keamanan dikarenakan lahan parkir yang digunakan biasanya memakan badan jalan sehingga dapat mengganggu para pengendara.Mereka yang menjadi juru parkir tersebut adalah para imigran yang tidak mendapatkan lapangan pekerjaan dan tidak memiliki keterampilan mereka lebih memilih menjadi juru parkir. Permasalahannya juru-juru parkir tersebut, kurang bertanggung jawab, mereka hanya meminta uang saja tetapi ketika ada orang yang akan menyeberang, mereka tidak membantu menyeberangkan. Misalnya yang terjadi di depan Indomaret yang berlabel bebas parkir yang ada di jalan sigura-gura.

Pengemis
Kota besar seperti Malang yang didalamnya dihuni oleh banyak kaum dengan ekonomi menengah keatas pastinya menjadi lahan yang bagus untuk sekedar meminta belas kasihan,hal itulah yang dijadikan oleh sebagian orang untuk mendapatkan keuntungan.Padahal dari pengemis-pengemis tersebut belum tentu bahwa mereka benar-benar miskin. Banyak modus yang digunakan oleh mereka untuk sekedar mendapatkan simpati dari masyarakat,mulai dari pembangunan masjid,sumbangan untuk korban bencana alam dan lain-lain.Para pengemis tersebut dapat dijumpai hampir disemua sudut kota malang seperti di Traffic light,rumah makan,pusat-pusat perbelanjaan dan lain-lain.Misalnya yang terjadi di tempat makan depan fakultas teknik, setiap hari pengemis yang datang adalah orang yang sama. Kebanyakan dari mereka masih muda dan memiliki fisik yang sehat yang seharusnya dapat mencari pekerjaan yang lebih baik lagi.

Pengamen
            Pengamen sudah sangat menjamur di Kota-kota besar tak terkecuali di Kota Malang. Masalah pengangguran menjadi penyebab utama maraknya para pengamen-pengamen yang kebanyakan berusia muda bahkan tidak jarang masih dalam usia sekolah. Kebanyakan dari mereka yang memilih untuk menjadi pengamen tersebut adalah karena mereka tidak memiliki kemauan untuk mencari suatu pekerjaan yang lebih layak lagi.Kondisi tersebut memaksa mereka yang hanya bermodal suara dan sebuah gitar untuk menjadi pengamen.
Hampir di setiap sudut jalan,lampu lalu lintas kita jumpai banyak sekali pengamen yang sebenarnya kondisi tersebut dapat membahayakan keselamatan mereka sendiri dan juga mengganggu kenyamanan pengendara kendaraan itu sendiri.Bukan hanya di jalan-jalan saja pera pengamen tersebut beraksi,rumah-rumah warga serta pertokoan juga menjadi lahan mereka mencari penghidupan sehari-hari.
Pengamen yang ada di kota Malang kebanyakan adalah dari kaum pemuda atau masih dalam usia produktif. Tidak seperti para pengemis yang hanya meminta minta tanpa adanya usaha , para pengamen setidaknya masih berusaha meskipun hanya sekedar memainkan gitar yang tidak berirama.meskipun demikian tetap saja pengamen membuat masyarakat tidak nyaman misalnya pada saat ditempat makan pengamen meminta uang tidak hanya ditempat ruko tersebut tetapi pengamen mendatangi satu persatu meja pelanggan, sehingga pelanggan merasa kurang bisa menikmati makanannya. Terkadang apabila tidak dikasih uang, pengamen tetap memaksa dan menyodorkan tempat uangnya
Dampak dari imigran yang tidak mempunyai keahlian serta jumlah lapangan pekerjaan yang memadai, jumlah pengamen juga ikut meningkat. Dapat dilihat dari jumlah pengamen yang menghampiri satu tempat makan dalam waktu satu jam dapat mencapai 10 pengamen.

Rabu, 19 Juni 2013

Malangku malang

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Rabu, Juni 19, 2013
Menurut lo gimana? 
0 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini
Dulu, katanya, Malang itu dingin. Dulu, katanya, Malang itu penuh hijau. Tapi, itu semua dulu. Sejak awal gue dateng ke Malang, setahun yang lalu, gue akhirnya mengerti, ini lah yang akan terjadi kalo kita mau kota kita maju. Macet, dan panas. Gue nyari-nyari yang kata mereka, kakak-kakak yang udah mendahului gue menginjakkan kaki di kota pendidikan ini, kalo Malang itu udaranya dingin. Tapi ternyata, dinginnya Malang waktu gue udah di sini, ya sama aja kayak di Lombok, kalo pas ujan aja -.-"

Sekarang udah hampir seminggu gue pindah kos, yang mana kos gue yang sekarang jauuuuuhhhh lebih memuaskan kalo dibandingkan kos gue yang lama, meski harganya juga lebih tinggi, tapi seengaknya gue nggak perlu ketakutan ada tembok yang goyang-goyang kalo hujan badai. Kos gue walaupun bisa dibilang relatif sepi, padahal berada deket banget sama jalan utama kota Malang (yangmana kalo lo mau masuk Malang pasti ngelewatin jalan ini) Nah, karena fungsi jalan ini lah yang menyebabkan gue rada susah kalo mau keluar ato pulang. Kenapa? Karena jalan ini kalo lagi jem-jem sibuk macetnya subhanallah naudzubillah deh, tapi yang bikin gue khawatir adalah, di jalan itu ada satu jembatan yang di bangun waktu zaman belanda masih banyak di Indonesia, dan sampe sekarang masih bertahan, bahkan dilewati ribuan kendaraaan tiap harinya, gue nggak tau deh sampe berapa tahun lagi jembatan itu bakal bertahan. Jalan ini emang strategis banget soalnya, dari jalan ini langsung bisa masuk gerbang universitas Brawijaya yang kece badai itu. Makanya, kalo udah di kosan gue mager deh, males kemana-mana, bahkan rela nggak makan seharian daripada keluar nyari makan. Bukannya apa-apa, cuman ngebayangin harus desek-desekan cuma nyari seonggok nasi, itu rasanya kurang setimpal.

Apalagi bulan-bulan ini lagi tahun ajaran baru, para maba-maba dengan tampang sok polos dan sok lugu mulai banyak berkeliaran di dunia perkampusan ini. Gue dan temen-temen seangkatan berasa tua deh, padahal baru kemaren rasanya di marah-marahin senior, di suruh nunduk-nunduk dan di bego-begoin yang begonya, kita mau-mau aja lagi. Setelah menginjak semester dua dan sebentar lagi gue akan merasakan jadi mahasiswa tingkat dua, gue baru bisa mengerti gimana perasaan yang dirasakan kakak-kakak yang dulu jadi panitia ospek yang kerjaannya cemberut mulu kek nggak pernah dikasi uang saku sama orang tuanya. Sekarang, waktu pendaftaran buat jadi panitia ospek buat jurusan dan fakultas udah di buka, gue cuma bisa sabar nggak bisa ikutan negebina adek-adek baru ini karena terhalang kehendak orang tua *ya namanya juga eiyke anak cewek, musti yang namanya orang tua takut anaknya jauh-jauh dari kampung halaman gini, padahal gue mah enjoy aja, cuman ya tetep aja gue nggak mau dicoret dari daftar warisan keluarga, jadilah liburan semester ini gue harus pulang dengan berat hati*

Tapi nggak, gue nggak lagi pingin ngomong masalah gagalnya gue menjadi salah satu panitua yang ditakuti disegani para mahasiswa baru ini. Padahal niat gue udah mulia banget lho pingin jadi panitia, pingin ngecengin maba-maba cowok yang kiyut-kiyut pingin menanamkan nilai-nilai yang seharusnya dimiliki mahasiswa *terutama mahasiswa teknik* dalam kegiatan perkuliahan baik akademis maupun non-akademis, #tsah #kerennggakbahasague #seniorteladan #pencitraan

Balik lagi ke niat awal gue nulis setelah sekian lama hibernasi dan cuma ngelongok ke blog-blog tanpa meninggalkan jejak *persis mantan yang belum bisa move on lagi stalking TL mantannya*, sebenernya gue cuma mau ngomongin kondisi kota Malang saat ini. Dari kata pengatar gue di awal-awal tadi, kayaknya gue udah menggambarkan bagaimana kondisi eksisting Kota Malang *bahasa gue udah PWK banget belum?* Mulai dari yang tiap siang panasnya nggarai gelut *read:ngajak berantem*, sampe setiap ruas jalan (terutama yang di daerah kampus) macetnya bikin stroke. Intinya, Malang sekarang, nggak seperti Malang yang gue bayangin tiga tahun lalu saat pertama kali tau namanya Malang. Apalagi kalo liat Malang beberapa hari ini, sesek banget. Para maba berdatangan, dan entah kenapa banyak universitas dan SMA-SMA yang ber-studi tour ke sini, kayak nggak ada tujuan lain aja -.-"

Bayangin aja, Malang dengan luas wilayah 110,06 km² dan jumlah penduduk waktu tahun 2010 (yang artinya belum termasuk mahasiswa-mahasiswa yang mulai berdatangan sejak tahun 2011 dan seterusnya *termasuk gue nggak keitung*) sebanyak 820.243 jiwa. Dan, mulai senin kemaren, penduduk *atau bisa dikatakan pengunjung* kota Malang meningkat drastis! Jalanan macet dimana-mana, termasuk jalan dalam kampus gue yang udah dianggap jalan tolnya Kota Malang *karena bisa menghubungkan dua jalan utama Kota Malang*  Padahal itu jalan kampus lho, yang katanya bukan jalan umum. Tapi karena emang lagi musimya penerimaan mahasiswa baru, dan kampus gue merupakan salah satu lokasi diadakannya tes SNMPTN, jadilah hari Senin sampai hari ini Brawijaya penuh sesak, karena dari Senin emang udah mulai daftar ulang buat jalur undangan. Jalanan macet sih nggak apa-apa, tapi kalo ditambah mataharinya nyolot, gimana bisa tahan coba?

Gue coba menelaah, kenapa Malang bisa kayak gini yak? Dan, setelah gue renungkan sambil ngelamun di tempet jemuran tadi sore, gue menyimpulkan, semua ini terjadi karena salah satu julukan yang menempel di Kota Malang itu sendiri, yaitu Malang kota pendidikan. Di sini, kalian bakal nemuin banyak kampus dari mulai yang ecek-ecek, sampe yang udah diakui nasional keunggulannya. Bayangin aja, kalo tiap tahun jumlah mahasiswa barunya banyak *dan biasanya tiap tahun bertambah* tapi yang lulus nggak sebanyak yang masuk, bagaimana jadinya kota ini? Bagaimana jadinya jembatan di jalan utama deket kosan gue? Masihkah dia sanggup menyambut mahasiswa-mahasiswa baru tahun-tahun ke depan? Sampai kapankah dia akan bertahan? Entahlah, gue bukan anak teknik sipil yang kerjaannya bikin jembatan, gue cuma bisa memperkirakan kemacetan dan kepanasan yang akan ditimbulkan para pendatang-pendatang baru dalam dunia perkuliahan ini. Gue juga bukan warga Malang, seenggaknya untuk beberapa tahun ke depan gue akan tinggal di kota ini, dan mau nggak mau sebagai warga negara yang baik serta calon planner, gue harus peduli dengan kondisi tempat tinggal gue sekarang. Karna, nggak mungkin kan kalo besok gue lulus, gue cuma bisa menyisakan kemacetan yang makin parah, ato polusi yang makin meningkat, ato panas yang makin bikin gosong. Jadi, saran gue baut mengatasi dan mengobati keadaan Malang yang cukup memprihatinkan adalah: JANGAN KULIAH DI MALANG.


Salam
Mahasiswa agak lama

Minggu, 24 Februari 2013

Teori Ngaco Tentang Milih Pemimpin

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Minggu, Februari 24, 2013
Menurut lo gimana? 
0 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini
Gut nait eperi badeh. Udah malem yak?

Iya nih, udah banyak bintang-bintang di langit. Ngomong-ngomong tentang langit, gue penasaran deh, kenapa ya selama di Malang, langit yang gue liat warna agak2 oren gitu? Nggak pernah item gelap dan banyak bintang-bintang kayak di rumah gue. Apa karena Malang udah tercemar banget yak? Penduduknya aja sampe bikin sesek gini.Pasti deh ni, langit Malang udah terkontaminasi dengan banyak nya jumlah kendaraan yang makin taun makin meningkat, sejalan dengan bertambahnya mahasiswa-mahasiswa di seluruh universitas yang ada di sini. Ini cuma teori yang sempet gue pikir sih, belum sempet gue teliti, tapi bagus juga nih jadi tugas makalah tentang perkotaan.

Ngomongin masalah teori, gue punya beberapa teori yang masih belum teruji tapi coba gue utarakan. Kali ini gue coba menerka ciri-ciri orang yang bakal kepilih sebagai pemimpin. Berhubung di jurusan dan fakultas gue, demen banget yang namanya nyari pemimpin buat mempersatukan banyak hal, gue mulai bisa mengelompokkan orang-orang mana aja yang berpotensi jadi pemimpin. Inilah dia di antaranya:

1. Pinter Ngomong

    Yap,orang-orang yang pinter ngomong adalah orang yang secara alami bisa menjadi pemimpin orang banyak. Apalagi kalo ditunjang dengan suaranya yang berwibawa dan cetar membahana, dijamin siapa juga bakal ngikutin semua kata-katanya. Gue pernah ketemu sama orang kayak gini, seorang cowok dari salah satu jurusan di fakultas gue. Dia pernah ngomong di depan temen-teme sejurusan gue, dan gaya ngomongnya beda banget sama temen-temen yang ngomong sebelum dia, keliatan banget pinternya. Belum lagi suara dia yang berwibawa, berat-berat menggoda gitu, bikin semua cewek yang hadir saat itu pada meleleh.

2. Cakep/cantik
   Selain modal pinter, tampang juga salah satu modal utama untuk bisa menjadi pemimpin. Misal aja waktu ada pemilihan ketua kelompok gitu, nggak jarang orang yang dipilih adalah orang yang memiliki pesona melebihi batas kewajaran. Alasannya bisa macem-macem. Ada yang karena pingin nyari perhatian. Ada juga yang emang dia cakep/cantik jadi banyak yang suka jadi waktu pemilihan dia otomatis langsung kepilih karena banyak yang inget deh. Bisa jadi, dia cakep/cantik dan juga pinter ngomong, ini namanya dia kurang ajar nih, ehh, ini mah lebih ajar ya namanya?

3. Badannya Gede
    Dulu, zaman-zaman gue SD tiap pemilihan kelas, yang terpilih sebagai ketua kelas pasti yang badannya paling gede di kelas. Nggak heran kenapa ketua kelas gue selama 3 tahun berturut-turut orangnya sama. Dari sini, gue simpulkan bahwa, orang yang porsi tubuhnya melebihi porsi tubuh orang normal, memiliki porsi buat jadi pemimpin lebih besar juga. Biasanya kalo orang yang badannya gede, dan nggak cakep terpilih sebagai pemimpi, dia cuma dijadiin tumbal, karena kalo badannya gede pasti nggak ada yang berani sama dia jadi bisa ngelindungi anak buahnya.

 Itu dia beberapa ciri-ciri orang yang biasanya sering jadi pemimpin. Ini sekedar teori dari gue, kalo kalian ngerasa punya kriteria lain yang bisa dijadiin salah satu ciri pemimpin, monggo di share di bawah. Feel free to leave your comment ya. Tapi, terlepas dari kriteria apa aja yang udah gue tulis dan apa yang lo pikirkan, setiap orang yang hadir di muka bumi ini sejatinya adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri.

Oke, berhubung ini udah malem banget dan gue besok harus ke kampus pagi-pagi sekali. See ya next post yooo. Bubye *sun jauh*

Minggu, 10 Februari 2013

Teori Konyol Sesaat Setelah Makan Sop Ayam

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Minggu, Februari 10, 2013
Menurut lo gimana? 
0 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini
Wah, udah lama banget nih nggak ngeblog.
Bukan mau sok sibuk, tapi sebulan kemarin dimana seharusnya gue liburan semester malah diisi dengan persiapan-persiapan sebelum mengikuti KKM ato Kuliah Kerja Mahasiswa yang udah jadi proker fakultas gue selama 34 tahun.

Tapi, postingan kali ini gue lagi nggak mood ngomongin KKM itu, karena kalo diceritain bakal panjang banget.

Postingan kali ini gue mau bikin semacam riset tentang posisi duduk di lesehan dan korelasinya terhadap hubungan seseorang. Jadi ceritanya tadi abis magrib gue dan sepupu gue mampir ke sebuah warung sop ayam yang cukup terkenal di Malang. Karena cukup terkenal, warung ini tiap harinya pengunjungnya rame banget, kayak malem ini. Saking ramenya, gue dan sepupu gue akhirnya milih buat naek ke lante dua dan duduk lesehan aja, karena memang cuma itu pilihan yang tersisa.
Waktu nyampe di lante dua, di sana ternyata udah ada sepasang muda mudi yang sedang menikmati sop ayam. Gue dan sepupu gue cuek aja sih, dan langsung duduk di meja yang ada di deket mereka.

Selang berapa menit, ada lagi sepasang orang pacaran yang dateng, dan langsung duduk di seberang meja gue. Emang sial ni orang-orang, nggak tau gue lagi jarang ketemu pacar apa ya? Kok malah pada pacaran di depan gue gini. Tapi, gue coba abaikan fakta mengganggu itu, biarlah mereka yang masih bisa merasakan berduaan dengan pacar menikmatinya, belum tau aja rasanya cinta yang terbentur keadaan #asek

Lama kelamaan, pengunjung yang naek ke lante dua ternyata makin banyak. Ada yang cewek sama cowok, ada yang cewek sama cewek, ada yang jomblo (karena dia dateng sendiri), bahkan ada yang dua cowok satu cewek. Gue nggak maksud mikir macem-macem awalnya, tapi orang-orang yang dateng ini kayaknya punya rumus sendiri buat duduk sesuai dengan hubungan yang (gue prediksi) sedang mereka jalani.
Contoh awal aja, gue dan sepupu gue, kita kan selain sepupuan juga temenan, posisi kita biasa aja, duduknya hadep-hadepan. Beda sama orang pacaran yang udah duluan ada sebelum mereka, duduknya aja udah sebelah-sebelahan, mana mesra banget lagi. Disusul dengan pasangan selanjutnya yang ada di seberang meja gue, mereka juga duduk sebelah-sebelahan dan mesra. Di meja samping mereka ada dua orang cewek yang duduknya hadep-hadepan persis gue dan sepupu gue, dan mereka nggak mesra-mesraan, jadi dapat gue simpulkan bahwa mereka cuma temenan *yaiyalah, gila aja lu mau mikir mereka lesbong*

Berdasarkan pengalaman tersebut, gue menyatakan suatu teori tentang korelasi antara posisi duduk dan hubungan seseorang. Jadi, kalo posisi duduknya udah sebelah-sebelahan, berarti ada hubungan spesial di antara dua orang, tapi kalo malah duduknya hadep-hadepan berarti mereka cuma sebatas teman.

Dari teori tersebut, gue dan sepupu gue langsung bikin kesimpulan yang sangat brutal terhadap orang-orang di tempat tersebut. Pertama, waktu ada tiga orang yang dateng (komposisinya dua cowok dan satu cewek) langsung duduk di meja yang udah ada seorang cowok di sana, kita langsung mesem-mesem nggak jelas. kenapa? Karena, dari tiga orang itu, dua diantaranya duduk sebelahan, maka mereka otomatis adalah sepasang kekasih. Nah, sayangnya, sisa satu cowok lagi duduk di hadapan sepasang kekasih ini,yang mana dia otomatis jadi sebelahan sama mas-mas yang udah duluan ada di sana. Gue dan sepupu gue curiga, jangan-jangan mereka punya disorientasi seksual *amit-amit*

Tapi, dari teori itu juga, gue bisa memprediksikan jalannya suatu hubungan. Kayak misalnya sepasang kekasih yang dateng begitu gue dan sepupu gue mau selese makan. Si mbaknya langsung duduk di meja gue bagian pojok sampe cowoknya bingung mau duduk dimana. Dan akhirnya si cowok duduk di hadapan mbaknya. Kan berdasarkan teori, posisi duduk begitu menunjukkan bahwa hubungan mereka cuma teman, padahal dari gelagat cowoknya, mereka bukan sekedar teman. Berhubung yang minta mereka duduk begitu adalah si cewek, maka gue simpulkan bahwa si cewek bentar lagi bakal minta putus dan memilih untuk berteman saja.

Sekian observasi gue tentang posisi duduk dan korelasinya dengan hubungan seseorang. Kalopun banyak yang ngaco dalam pengambilan kesimpulan, itu semata karena gue nggak punya landasan teori yang kuat. Mungkin suatu saat gue akan buka restoran sendiri buat memastikan kebenaran teori ini, tapi entahlah. Yang pasti saat ini gue udah cukup puas dengan teori asal-asalan ini. Semoga teori ini nantinya dapat bermanfaat bagi hubungan percintaan maupun persahabatan kawula muda indonesia. Amin. 

Selasa, 01 Januari 2013

Sepenggal Kisah Akhir Tahun

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Selasa, Januari 01, 2013
Menurut lo gimana? 
0 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini

Selamat tahun baru 2013, guys. Gue baru tiga hari balik ke Malang, dan besok UAS bakal dimulai. Seperti halnya kebanyakan mahasiswa lainnya, minggu tenang yang dimulai dari tanggal 21 desember kemarin gue habiskan dengan menikmati yang namanya tidur sampe siang, makan apapun yang gue mau tanpa harus takut uang abis, dan hal-hal lainnya yang bisa gue lakukan di rumah. Yap, seminggu kemarin gue pulang kampung buat menikmati minggu tenang. Niatnya sih mulia, mau pulang belajar, tapi apalah daya seorang mahasiswa yang kerjaannya 5 bulan terakhir belajar terus kalo disuguhi segala hal mewah yang nggak didapet selama diperantauan? Jadilah akhirnya gue kayak pengangguran lagi di rumah, dan selama gue di rumah frekuensi gue megang buku buat belajar bisa diitung dengan satu tangan. Bukan, gue bukannya nggak niat belajar, gue udah niat belajar, tapi ya balik lagi dengan segala kenikmtan yang menggoda yang ada di rumah, gue khilaf *maafin aku yaoloh*

Ngomong-ngomong lagi di rumah, hari kedua gue di sana, gue dapet sambutan meriah banget deh. Jadi ceritanya gue lagi asik noton film di kamar adek gue yang selalu gue bajak kalo gue pulang *cause, fyi, gue belum dibikinin kamar sendiri karena dulu gue nggak ikut pindah waktu keluarga gue pindah ke rumah yang sekarang, hiks*,sambil asik nonton gitu gue juga lagi asik mention-mentionan sama temen-temen sejurusan gue. Waktu itu lagi ujan, ujannya sih nggak deres-seres banget, cuma gerimis. Tapi yang bikin serem itu petirnya, gila, banyak banget. Gue awalnya cuek aja, nggak sadar kalo udah ujan malahan. Sambil tidur-tiduran+nonton+twitteran, tiba-tiba ada suara aneh yang kedengeran dari atas. Gluduk, gluduk, gluduk, cetaaaarrr, tretek tretek tretek tek tek tek, kurang lebih gitu bunyinya. Di tengah suara itu, gue yang lagi megang hape, berasa kayak kesetrum dan rumah tiba-tiba jadi gelap semua. Saat itulah gue sekeluarga sadar, rumah kita kesamber petir! Gila, padahal nggak ada yang lagi maen sumpah-sumpahan, tiba-tiba aja petirnya maen nyamber, emang nih petir nggak pernah diajarin sopan santun kali yak. Setelah tersadar dari electric shock *gue asal aja make istilah in, ngerti juga kagak*, bokap gue langsung ngecek keadaan sekitar, dan dari pemeriksaan sekilas ditemukan : 2 atap pecah, tembok bagian atas yang diduga terkena langsung sambaran petir bolong beberapa cetimeter, dan yang paling fatal sekring listrik rumah kami rusak parah alias ancur!

Bokap nyokap gue langsung keluar jurus andalannya, ngomel-ngomel nyalahin gue dan adik-adik, katanya gara-gara kita nyalain laptop rumah jadi kesamber petir. Duh, gue jadi gemes sendiri, kita lho nyalain laptop tapi nggak make internet, gimana bisa coba cuma gara-gara ada laptop nyala petir jadi nyerang rumah kita?  Padahal penjelasannya sederhana aja. Rumah gue itu letaknya paling timur dari rumah-rumah yang ada di sekitar gue, dan juga paling tinggi. Belum lagi di sebelah timur rumah gue, nggak ada pohon besar, sejauh mata memandang di sebelah timur itu cuma ada sawah, jadi jangan salahkan laptop kalo ternyata tiba-tiba ada petir yang dateng dari arah timur dan langsung nyasar ke rumah kita, wong nggak ada pelindungnya kok. Tapi apalah dya seorang anak yang sedang menghadapi orang tua yang kalang kabut? Akhirnya gue cuma bisa pasrah menerima semua muntahan dari bokap-nyokap gue.

Sore itu juga bokap manggil petugas PLN buat ngebenerin sekring listrik yang sudah tak terselamatkan tersebut. Dalam beberapa jam, listrik di rumah langsung bisa nyala, tapi itu cuma di dua ruangan, ruang keluarga dan kamar nyokap-bokap, sisanya kayak kamar adek-adek gue, dapur, kamar mandi, ruang tamu bahkan teras pun mati total, akhirnya untuk menyelamatkan ruangan-ruangan penting dipake lah penerangan darurat, bukan, bukan obor, kami nggak seprimitif itu -____- Kami beli kabel rol dan cok T yang banyak biar bisa nyambung ke tempat-tempat darurat yang listriknya nggak bisa nyala. Akhirnya dengan begitu, selama dua hari gue tidur dengan gelap-gelapan dan sukses nggak belajar *padahal kalo ada lampu juga males belajar* dan numpang ngecas hape sama laptop di dapur sangking yang ada colokannya cuma ada di dapur. Sialnya, kejadian ini terjadi tanggal 24 desember kemaren, yang mana artinya para pekerja sedang ada cuti bersama karena besoknya hari natal, untunglah setelah dua hari kemudian, pagi-pagi ada petugas PLN yang dateng dan ngebenerin kabel di loteng yang ternyata putus gara-gara petir kemarin. Sebenernya, tidur gelap-gelapan dan nyari tempat ngecas darurat adalah dampak jangka pendek yang diakibatkan sambaran petir tersebut, dampak jangka panjang nya adalah dalam beberapa hari atau mungkin beberapa minggu ke depan, keluarga gue pasti bakal jadi artis kampung karena dimana-mana bisa dipastikan bakal ngomongin rumah gue yang kesamber petir. Ya, orang-orang kampung gue emang sangat perhatian sekali sama tetangganya *senyum nyinyir*

Setelah kejadian disambar petir itu, nggak ada kejadian yang seru lagi sih, soalnya gue cuma diem di rumah dan nggak kemana-mana buat ngabisin liburan, sampe akhirnya tiba hari sabtu, hari dimana gue harus balik ke Malang.UAS nya mulai tanggal 2 sih, tapi tanggal 31 kemaren gue ada presentasi tugas KRIDA yang wajib dihadiri, jadilah gue memberanikan buat balik ke malang seorang diri, bener-bener nggak ada yang nemenin. Niat awalnya gue mau ketemu sama temen sejurusan gue yang balik ke Malang hari itu juga di Surabaya, dan naik travel bareng-bareng ke Malang, tapi karena kendala waktu keberangkatan yang jauh beda, akhirnya gue cuma bisa dipesenin travel sama dia, dan ke Malang sendirian.

Waktu di bandara, pas lagi check ini gue ketemu segerombolan bapak-bapak yang lagi mau masukin bagasinya. Gue perhatiin bawaan mereka banyak banget, gue curiga mereka baru pertama kali ke tempat gue dan terkagum-kagum sampe ngerasa perlu bawa oleh-oleh berkarung-karung. Lagi asik-asiknya ngamatin mereka, tiba-tiba ada mbak-mbak pawang singa udara *if you know what I mean* ngasi stiker “fragile” buat bapak-bapak yang kelakuannya ajaib-ajaib itu. Ngeliat mereka maen-maen sama stiker yang udah di kasi karena ternyata nyisa banyak akhirnya gue buat ngeberaniin diri buat negur bapak-bapak yang bawa stiker tersebut. Gue bilang, “pak, daripada disia-siain gitu, mending kasi saya deh” Sialnya, dengan gue ngommong gitu si Bapak malah jadi ngedeketin gue, dasar ganjen -___- Dari check in sampe mau naek pesawat, dia ngajakin gue ngobrol, untung aja kita nggak satu pesawat. Anehnya, percakapan gue dan si bapak tiap sesinya pasti berakhir garing entah berkat bakat percakapan gue yang parah abis ato si Bapak yang aneh pisan *fyi, si Bapak asalnya dari sunda*, misalnya kayak gini:

Si Bapak: kuliah dimana mbak?

Gue: di Malang, Pak

Si Bapak: ohh, di Malang? Bla bla bla *gue lupa dia ngomong apa, tiba-tiba...* minta nomer hapenya boleh, siapa tau kapan-kapan saya ke Malang kan bisa ketemu

Gue: nanti aja ya pak, kalo kita ketemu di Malang, baru saya kasi, hahaha

Si Bapak : ngimpiiiii

Kemudian hening. Hening yang lama banget, sampe si Bapak pergi dengan tanpa pamit.

Ato kejadian berikutnya, beberapa saat sebelum dia naik pesawat,

Gue ngeliat si Bapak tadi di kejauhan, dan gue berusaha sembunyi supaya nggak keliatan 
sama dia, sialnya tetep aja dia bisa nemuin gue, shit. Terjadilah kembali percakapan singkat antara gue dan si Bapak :

Si Bapak : ehh, ketemu lagi

Gue: hahaha *ketawa canggung* iya pak

Si Bapak: katanya mau ngasih nomer hape kalo kita ketemu lagi?

Gue: hahaha *masih ketawa canggung* saya bilang kan kalo ketemu di Malang baru saya kasi pak

Si Bapak: yaahh, pelit banget sih *lama-lama gue mikir, si Bapak nggak tau malu apa yak? Uda tua juga -_____-*

Gue: hehehe *ketawa makin canggung*

Beberapa saat kemudian terjadi percakapan yang sumpah garing abis, si Bapak nggak menunjukkan kalo dia cocok ngomong sama gue, gue juga bingung harus nyari bahan obrolan apa sama bapak-bapak yang tiba-tiba aja dateng nyamperin gue, bahkan nggak make kenalan. Akhirnya percakapan diakhiri dengan adegan yang garing abis kayak gini:

Si Bapak: bla bla bla bla bla bla *sumpah, gue nggak konsen dia ngomong apa, saking gue bingung mau ngerespon kayak gimana*

Gue: hahahahaha, iya pak

Kemudian hening lama, dan si Bapak buru-buru pamit menuju kawanannya di deket pintu keberangkatan. Sampe detik ini gue nggak ngerti, apa yang salah dari pertemuan nggak jelas kami itu.

Ternyata pesawat gue di-delay setengah jam, padahal gue udah di bandara dua jam sebelum jam keberangkatan. Setengah jam kemudian, akhirnya gue naik pesawat, sms travel buat siap-siap jemput gue, sejam kemudian nyampe di Surabaya, nungguin bagasi keluar, nyariin travel yang mau bawa gue ke Malang, naek travel, langsung cap cus ke Malang. Dalam perjalanan ada kabar kalo bakal ada kemacetan, akhirnya si sopir travel nyari jalan-jalan di kampung-kampung gitu buat menghindari kemacetan, tapi tetep aja, di suatu titik kita ketemu juga sama yang namanya macet, karena ternyata banyak mobil dan truk yang lewat jalan itu. Setelah bertahan beberapa saat keluarlah kita dari kemacetan dan tidak ada hambatan yang terlalu berarti buat sampe ke tujuan. Gue diturunin di depan gang kosan setelah dua orang lain yang ada di mobil yang sama dianter ke tempat masing-masing. Pas nyampe, gue langsung keluar mobil, nurunin barang-barang, manggil anak kosan buat bantuin bawa bara, bayar travel, terus balik lagi ke kosan.

Sekitar setengah jam kemudian, gue kebelet pipis dan langsung lari-lari turun ke lante bawah, begitu selese menunaikan hajat, gue ngeraba-raba kantog baju gue karena gue inget naroh ktp di sana tadi, sebelum naek ke travel, gue inget banget, gue masih ngerasain ada ktp di kantong baju sebelah kanan, tapi begitu gue keluar kamar mandi dan gue raba lagi ternyata udah nggak ada. Mampus gue! Gue langsung lari ke atas, bongkar-bongkar kamar siapa tau jatuh disana, nggak ada. Lari lagi ke bawah nelusurin jalan ke kamar mandi siapa tau jatuh waktu gue lari, nggak ada juga. Langsung lari ke luar ke tempet tadi si sopir travel nurunin gue, tetep nggak ada. Akhirnya dengan pasrah gue balik ke kamar, dan sms si pemilik travel buat nanyain keberadaan ktp gue. Gue dapet kabar keesokan harinya, kalo ternyata, ktp gue, nggak ada di mobilnya. Mampus kuadrat deh gue.

Bagi siapa pun yang menemukan ktp atas nama Brilyan Bayani Tisna, tolong ya, kirim email ke brillyanbayani@rocketmail.com ato brilyanbayani80@gmail.com ntar ada imbalan yang setimpal kok.
Sekali lagi, selama tahun baru guys.....

Kamis, 22 November 2012

Ku Buka Hati Untuk Dunia-ku

Diposkan oleh Brilyan Mamori di Kamis, November 22, 2012
Menurut lo gimana? 
0 Pikiran Orang Tentang Ini Link ke posting ini
Waktu, kapan kah jawabmu kan bertemu
Akan gelisah tentang tanya
tentang bingung yang tak juga berujung.

Penguasa, hujan ini tak ingin kah dihentikan?
Tak inginkah ia berakhir dengan cepat?
Atau haruskah dia ciptakan badai...
Dalam dunia, dalam kita

Tabib, hatiku butuh penawar
Hatiku yang seharusnya menawar racun, 
menetralkan bahan berbahaya,
butuh penawar
Cinta, kukuhkan ragamu
pastikan masih berdiri ketika hati sudah tak menjadi wadah

Ah, kata, teruslah berdendang
Agar hilang sejenak penat ini
Agar lebur sebentar perihnya yang menyayat
Agar kuat meski semenit atau sedetik
hati yang coba ku siapkan

Angin, bawa pergi sedih ini
bawa hilang benci ini
sisakan cinta nya
buat dia, yang kini melukiskan tangis di hati dan mata ku
 

Brilyan's Journal Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos